PBM JAM TERAKHIR MENJEMUKAN


(Upaya Membangkitkan Semangat Belajar pada saat jam terakhir PBM)

“Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk membangkitkan motivasi belajar pada saat jam terakhir (kondisi kurang bargairah, turunnya semangat belajar), dan jika berhasil memanfaatkan jam terakhir dengan baik maka inovasi-inovasi akan segera kita temukan”

Jam terakhir pelajaran merupakan suasana membosankan, hal ini tidak hanya dirasakan siswa tapi guru juga menghadapi kondisi yang sama. Pada suasana jam terakhir secara fisik siswa sudah mulai letih karena pengaruh tubuh yang mulai merasakan kelaparan dan lemahnya otot-otot yang disebabkan karena kekurangan energi.
Gambaran-gambaran seperti ini tidak hanya dirasakan sekolah-sekolah yang berbasis lokal (pinggiran), perkotaan yang lengkap dengan fasilitas-fasilitas yang mendukung, dan bertaraf atau berstandar internasional (intelektualismenya) terjamin juga merasakan kondisi yang sama. Karena pada jam terakhir ini kondisi psikologis anak didik sudah mulai menurun. Semangat untuk memperhatikan, mencatat, mendengarkan, dan mengerjakan tugas-tugas yang diberIkan guru tidak sehebat pada jam pelajaran kesatu, dua, dan tiga yang tentunya dihiasi suasana segar dan normalnya semua sistem kerja syaraf. Guru pada jam pertama belum merasakan hawa ngantuk, motivasi untuk menyampaikan materi pelajaran masih relatif tinggi (kondusif) dan enak untuk dinikmati.
Dengan kondisi seperti ini tentunya guru harus lebih intens dan agresif menciptkan inovasi-inovasi yang bisa membuat suasana lebih hidup dan tak monoton. Salah satunya adalah penyampaian materi tidak hanya terfokus pada aspek pembelajaran semata, tapi juga memuat hal yang bisa membangkitkan gairah untuk menerima materi dengan menghindari perasaan ngantuk dan pecahnya konsentrasi. Kebiasaan-kebiasaan menyatukan pikiran (konsentrasi) dengan memfokuskan objek pada satu tujuan yang positif yaitu mendengarkan penyampaian materi, berinteraksi dengan guru dan siswa, dan menanggapi hal-hal yang disampaikan guru tentang materi-materi yang belum dimengerti akan membantu siswa dan guru untuk lebih mengefektifkan waktu yang disediakan khususnya untuk hal-hal yang bermanfaat. Dengan menyatukan pikiran untuk hal yang berhubungan dengan materi pelajaran tanpa memikirkan yang lain akan berakibat positif untuk suatu tujuan sesuai dengan indikator.
Inovasi-inovasi lain adalah penerapan strategi dan metode yang produktif, karena kita tahu bahwa sebagian besar pasti banyak memiliki strategi dan metode untuk mencapai tujuan yang lebih terarah. Metode yang baik tentunya banyak memberikan dukungan yang riil tanpa mengurangi nilai-nilai yang ada, maksudnya metode yang kita gunakan lebih tepat sasaran dan menimbulkan reaksi peserta didik dalam menerima dan mengembangkan ilmu (kompetensi) yang sesuai dengan bidang keahliannya. Kita sering melihat guru hanya dengan dua metode yang sama-sama tidak produktif dan tidak menimbulkan sugesti siswa yang justru sebaliknya, sehingga kondisi pembelajaran tidak maksimal (vakum) karena rendahnya motivasi siswa.
Jika reaksi dan interaksi tidak berjalan maksimal, maka sudah otomatis materi pelajaran yang disampaikan tidak diserap dengan baik alias gagal. Padahal secara kuantitas, persentase keberhasilan indikator harus mencapai 85 % untuk lebih mendekati ketercapaian ideal sesuai tuntutan kurikulum. Tidak ada alasan untuk menghindari suatu keberhasilan, apakah karena memang latar belakang (input) siswanya yang terkategori rendah atau karena kualitas metode, sarana, dan prasarana serta media yang lain yang kurang mendukung, dan hal ini akan sangat sulit lagi jika berhdapan dengan kondisi kelas yang kondusif secara konotatif (tidak ada kekacauan di dalam kelas karena semua siswanya sudah dalam kondisi mengantuk). Dilematis kalau hanya dipandang dengan sebelah mata, tapi ini merupakan tantangan bagi guru untuk meningkatkan profesionalisme secara berani seperti yang terjadi di saat-saat jam terakhir kegiatan belajar mengajar (KBM). Kalau di jam terakhir semua guru bisa mengondisikan suasana agar lebih hidup dan interaktif, maka hal ini akan menjadi sebuah catatan bahwa guru tersebut telah berhasil mengarahkan siswanya agar lebih produktif walaupun kondisinya sudah tidak mendukung.
Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk membangkitkan motivasi belajar pada saat jam terakhir (kondisi kurang bargairah, turunnya semangat belajar), dan jika berhasil memanfaatkan jam terakhir dengan baik maka inovasi-inovasi akan segera kita temukan. Di antaranya adalah seperti yang tertuang berikut :

Guru Humoris
Dengan tetap mengacu pada pokok materi yang diajarkan, humor dalam setiap kegiatan pembelajaran sangat dibutuhkan untuk mengalihkan sesaat kondisi ruangan yang tenang karena rata-rata kondisi psikologis anak didik sudah mulai menurun sehingga interaksi belajar nyaris tidak bergairah. Untuk tetap menjaga agar KBM berjalan sesuai dan sama seperti pada saat jam-jan awal, maka kehadiran guru yang humoris sangat dibutuhkan. Tema yang diambil adalah tema yang sesuai dengan materi yang berupa tebak-tebakan, pelemparan kuis, teka-teki dan sebagainya. Hal ini akan menghindari anak didik dari rasa kantuk, karena secara umum mengantuk disebabkan :
– keterangan guru kurang menarik
– di dalam benak siswa tidak ada motivasi, karena menganggap guru juga sama
– guru terlalu santai dan tidak memberikan reaksi yang positif
– monoton dan tidak ada ketegangan (untuk menimbulkan reaksi positif), karena jika anak didik tegang maka tidak akan terlintas di benak mereka untuk membiarkan perasaan mengantuk yang menderanya
– tidak ada kesibukan yang berarti

Debat Interaktif (diskusi)
Kegiatan diskusi merupakan alternatif positif untuk memecahkan kebuntuan, karena siswa yang kritis, apresiatif, dan reaktif setiap pembahasan akan menaikkan tensi darah yang berakibat pada aktifnya seluruh organ tubuh dan menguatnya kembali otot-otot yang semula lemah karena hari yang semakin siang. Kondisi psikologis yang lemah tidak akan mempengaruhi sistem kerja otak, jika kegiatan diskusi dan debat interaktif yang dipandu guru bisa menghidupkan suasana. Dalam hal ini semua anak didik harus terlibat secara aktif sesuai dengan kreativitas guru yang lebih canggih dan profesional dalam mengelola kelas yang lebih bermakna dan kondusif. Siswa juga harus lebih banyak berkomentar, apresiatif, reaktif serta bisa memberikan tanggapan walaupun tingkat objektifitasnya masih membutuhkan banyak perhatian guru. Dalam kondisi klimaks inilah saat yang tepat bagi guru untuk sedikit demi sedikit memberikan pemahaman materi sesuai indikator, karena setelah diskusi hidup pasti suasana kelas akan kembali semangat (termotivasi).

Munculkan Kosakata Kias
Tidak semua mata pelajaran memiliki kosakata yang memiliki makna kias, tapi diantara sekian banyak materi pasti ada beberapa kata-kata sandi yang perlu dilemparkan ke anak didik untuk dijadikan bahan pemacu semangat dan meningkatkan gairah. Tapi cara ini lebih baik digunakan dengan memadukan sistem diskusi, debat interaktif, dan mengukur kompetensi siswa dengan memberikan kesempatan kepada anak didik untuk menjelaskannya di depan kelas. Dan hal ini guru juga harus menyediakan kamus istilah yang sesuai, sehingga ketika ada instruksi siswa bisa memanfaatkan kamus walaupun secara berkelompok atau individu. Penggunaan kartu huruf sebenarnya juga menarik untuk digunakan, tapi cara ini lebih menekankan pada kemampuan guru dalam memainkan peran di kelas, kalau guru bisa menghidupkan suasana dengan baik dan teratur maka siswa akan semakin tertarik, sehingga perasaan mengantuk akan hilang dengan sendirinya terbawa arus peramian atau skenario guru.

Out bound
Kegiatan out bound (di luar kelas) sebenarnya lebih bagus dan menarik untuk diterapkan pada saat-saat jam terakhir, selain anak lebih rileks dan santai, anak didik lebih leluasa untuk menemukan jati dirinya dalam menerima materi pelajran yang diberikan oleh guru. Tapi cara ini kurang potensial untuk diterapkan di sekolah-sekolah dan kurang mendapat reaksi pihak sekolah, karena menganggap bahwa anak akan lebih banyak membuang waktu dan menggunakan kesempatan untuk lebih banyak bergurau daripada menerima dan menyerap materi pelajaran.
Ada beberapa sekolah yang sudah menerapkan cara ini, tapi ternyata hasilnya kurang memuaskan karena justru siswa lebih bebas untuk meninggalkan materi daripada hal-hal lain yang kurang berbobot (tidak sesuai materi pelajaran). Salah satu contoh banyak mengobrol dan berdiskusi dengan teman-temannya tentang hal-hal lain, main lempar-lemparan, main HP, dan lainnya. Tetapi paling tidak cara ini harus dianggap sebagai bentuk terobosan baru untuk dioptimalkan agar selayaknya metode ini diterapkan sebagai masukan yang perlu dikaji secara mendalam untuk meningkatkan mutu pendidikan terutama di jam terkahir KBM yang banyak dihadapkan pada penyakit-penyakit yang mengganggu. Dalam hal ini gurulah yang harus banyak menjadi peran utama, merangkap sutradara dan pengarang naskah yang akan dilakonkan oleh anak didik, dengan demikian akan ditemukan sebuah jawaban bahwa kegiatan out bound merupakan bentuk strategi untuk menghindari budaya mengantuk di jam terakhir pelajarn.

Tampilkan Tayangan Penggugah
Guru kaya akan pengalaman, metode, strategi, dan sumber pelajaran. Tentunya hal tersebut harus diimplementasikan ke dalam bentuk inovasi untuk membangkitkan dan memberikan semangat kepada anak didik agar tetap terdorong dalam menerima materi pelajaran walaupun pada jam terakhir yang sudah mulai kurang kondusif karena pengaruh otot yang mulai loyo, karena kehabisan energi, dan tidak bekerjanya sistem kerja syaraf otak. Untuk itu perlu dibuatkan dan ditayangkan penampilan penggugah, tapi tetap mengacu pada materi pelajaran karena tujuan utama guru adalah mengajar. Salah satu contoh adalah dengan menayangkan penampilan pelajarn orang yang sedang membaca puisi, lagu-lagu perjuangan, film yang sesuai dengan tema pelajaran atau menayangkan lagu-lagu yang disukai anak dengan durasi waktu sebentar untuk menghilangkan kepengatan dan rasa capek. Tapi hal ini membutuhkan waktu, biaya, dan energi yang cukup sehingga persiapannya harus benar-benar matang dan produktif, dan di dalam kelas harus disediakan audio video, VCD, dan yang lainnya yang mendukung. Yang paling ideal dan paling siap untuk saat ini adalah sekolah-sekolah yang sudah berbasis teknologi, namun bukan berarti sekolah-sekolah marginal tidak bisa melakukan dan menerapkan cara ini dan jawabannya adalah kepedulian pihak pemerintah untuk lebih memperhatikan konsep ini.
Peningkatan mutu pendidikan membutuhkan biaya yang cukup, memeras keringat, dan yang terpenting kepedulian semua pihak, dalam hal ini guru haruslah profesional dan kompeten sesuai dengan bidang keahliannya. Tidak hanya mengandalkan kepandaian yang bersifat akademik, tapi memunculkan inovasi-inovasi baru untuk sebuah terobosan dan menjanjikan perubahan untuk suatu kemajuan.

Akibatnya juga berpengaruh pada kegiatan pembelajaran yang tidak efektif dan asal-asalan (istilah pokoknya yang terpenting). Selain itu yang menjadi korban adalah perencanaan-perencanaan yang dipersiapkan guru sebelumnya termasuk di dalamnya indikator yang penekanannya pada kompetensi siswa (kognetif, afektif, dan psikomotorik) tidak akan tercapai dengan baik.

%d blogger menyukai ini: