DURHAKA


Cerita ini hanyalah bagian kecil dari gambaran kehidupan yang penuh dengan kekerasan, kekejaman, hilangnya cinta dan kasih sayang…semuanya buta walaupun itu sebenarnya kebenaran…semuanya dusta walaupun ia tahu kejujuran telah hilang dari hatinya….pantaskah ia menjadi seorang manusia, jika ia tidak bisa menyayangi dirinya dan keluarganya….anjing aja bisa merawat anaknya dan sebaliknya…. Mengapa manusia yang satu ini seperti Dajjal…membuat angkara murka di muka bumi dan menyiksa semua orang yang menentangnya….sungguh kejaaaaaammmmmmm
Masuk…..”Lagu Pak Tua yang dimainkan oleh semua anggota ….”
Kamu yang sudah tua apa kabarmu
Katanya baru sembuh katanya sakit
Hari menjelang maghrib pak tua masuk
Hati-hati pak tua istirahatlah
Di luar banyak angiiiiiiiiinnnnn
Reff :
Pak tua sudahlah
Engkau sudah terlihat lelah oh yaaaa
Pak tua sudahlah
Kami mampu untuk bekerja oh yaaa
Pak tua….teng…teng..teng teng teng teng teng
Tidur pak
Setelah nyanyi…..turun kembali hahahahahahahahahahaha……….

(….”nampak seorang kakek tua duduk di atas kursi sambil memegang dadanya yang sakit….”!)
Mengapa hidup ini sepi
Tak ada orang yang peduli
Semua sibuk lalu lalang
Anak-anakku pergi tanpa alasan
Istriku telah menghadap Tuhannya
Kini aku hidup dalam kelam
Tak ada yang menemani, sepi mencekam
Inilah jalan hidup yang berliku

Masih adakah cahaya Tuhan dihatiku ?
Keraguan selalu muncul
Imanku hanyalah pertanyaan
Dari sebuah kegagalan
Karena aku tidak mengenal siapa
(“……kemudian masuklah seorang anak muda dalam kondisi setengah mabuk, sepertinya ia baru saja mimum-minuman keras….sambil mendorong kakek tua yang tidak lain adalah ayah kandungnya sendiri dia berteriak dan memaki-maki dengan kata-kata kotor…”!)
“Dasar tua renta tak berguna”…(“sambil meludah kea rah kakek tua”)
Kau hanyalah penghambat jalanku
Kau hanyalah bangkai tua yang usang
Nafasmu bau, mulutmu bau, ototmu kaku
Kau sebaiknya segera menghadap Tuhanmu
Apa yang kau cari dalam hidup
Selain menyusahkan orang lain
Merugikan malaikat
Merugikan nabi
Merugikan Tuhan
Merugikan pemimpinmu
Tuk mencari nafkahmu

Yah….kau pernah melahirkan aku
Kau pernah meneteskan benih
Di dalam rahim ibuku
Tapi itu bagiku penyiksaan
Penghinaan, andaikan kau tidak menjadikan aku manusia
Aku tidak akan menderita seperti ini
Mungkin saat ini aku berada di langit
Atau di perut bumi untuk menggetarkan jala kehidupan
Tapi inilah dosamu, dosamu, wahai tua renta……(“sambil menginjak perut kakek tua dan memukulinya berkali-kali hingga kakek tua mengeluarkan darah dari mulutnya..”)

“….Kemudian datanglah dua orang gadis yang tidak lain adalah putrid kedua dan ketiga kakek itu, sementara sang pemabuk yang tidak lain adalah anak pertama atau anak durhaka dari kakek itu masih terus mencaci dan menyiksa kakek itu hingga kakek itu pingsan dan tidak sadarkan diri..”

Dasar anak durhaka
Sadarkah engkau bahwa darahmu, jiwamu, dan jasadmu adalah hasil benih orang yang telah kau siksa
Sadarkah engkau, tanpa mereka kau tidak akan pernah ada
Tidak akan merasakan bagaimana indahnya hidup
Tapi jiwamu telah tertutup syaitan
Darahmu hanya mengalir dendam
Otakmu hanya terpikir kesenangan
Ototmu hanya kau gunakan untuk menyiksa dan membuat onar di muka bumi

Segeralah kembali kepada Tuhan
Segeralah kembali kepada jalan kebenaran
Taubatlah sebelum ajal menjemputmu
Karena kau akan menjadi batu,
Seperti Malin dalam kisah cerita anak durhaka

(“…dua orang putri itu pun memeluk kakek yang masih berbaring dengan tangisan dan air mata yang terus mengalir karena melihat, marasakan penderitaan kakek di usia senjanya…menangis dan terus memeluk tubuh yang masih berbaring menahan sakit…tiba-tiba datanglah seorang habib berpakaian serba putih sambil memegang tasbih ia berkata…”)

Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani soghiiro
Tuhan…ampunilah mereka sebab mereka tidak mengerti dengan apa yang mereka perbuat
Ridhollahi fii idol waalidaiin
Suhtullaahi fii suhtul waa lidaiin
Wahai ummat manusia
Seandainya ibumu mendosakanmu
Maka tuhanmu tidak akan mengampunimu
Seandainya ibumu mengutukmu menjadi batu
Maka Tuhanmu akan mengubah wujudmu menjadi batu
Tidak sadarkah engkau bahwa jalan hidup
Terangnya bumi dan kehidupan, karena cahaya ikhlas ibumu
Selama itu pula kau banyak menyiksa
Sakit perut, pusing, dan terkadang muntah
Itulah tujuan hidup untuk mejadikan kamu
Mengenal dunia ini dengan senyum dan kebaikan
Jangan tunggu sampai kamu menjadi batu
Lihatlah mandaruso ini
Suatu saat, ini akan mengantarkanmu
Subhanallah….astaghfirullahaladhim…
“….tiba-tiba terdengar bunyi petir mengiringi kepergian syeikh yang tidak lain adalah penjelmaan mahluk Tuhan yang akan selalu menyadarkan manusia, dan begitu melihat syeikh pergi anak muda dan kedua putrid kakek itu tersentak, sementara kakek tua masih belum sadarkan diri hingga akhirnya..”)
Wahai anakku
Apapun yang kamu perbuat kepadaku
Aku selalu mengampunimu dan mamaafkanmu
Tapi tidak pada kau mahluk durhaka…(menunjuk pada anak muda yang telah menyiksanya dan tidak lain adalah anak pertamanya…”tiba-tiba terdengar petir dan pemuda itu pun tersentak kaget yang akhirnya pingsan…”
Bapak…ampunilah dia
Jangan kau kutuk dia
Dia adalah darahmu
Dia adalah benihmu
Dia adalah tulang punggungmu
Benar bapak
Cabutlah ucapanmu
Karena suaramu adalah suara Tuhan
Jangan kau biarkan darah dagingmu membeku
Dan terbujur kaku seperti ini
Siapa yang akan mendoakanmu
Setelah kau menghadap Tuhanmu nanti
Sejelek-jelek mahluk ini, dia adalah benihmu
Tuhan saja mengampuni setiap dosa-dosa mahluknya

“…kakek itu terdiam, tak terasa tetesan air mata mengalir dan membasahi anak mauda yang tidak lain adalah anaknya sendiri, diapun memeluknya dan memohonkan ampun kepada Tuhannya, tapi dosa tetap dosa dan kutukan akan tetap berlaku ….hingga akhirnya anak muda itu menghembuskan nafasnya yang terakhir tanpa adanya kata maaf dari seorang bapak yang telah menghidupinya sejak kecil…”

Ilahilastulilfirdausiahla
Wala awa ala nuuril jahiimi
Fahablitau batau waghfir dzunuubi
Fainnaka ghaufiruddzambil adziimi 3x

Diangkatlah jasad terbujur kaku untuk menuju tempat abadi, tempat peristirahatan terakhir dari setiap manusia yang hidup di muka bumi ini.

Itulah jalan akhir hidup manusia, maka segeralah berbuat baik untuk diri kita sendiri, keluarga dan orang lain, tak ada manusia yang kekal, semuanya akan mati. Bagaikan menempuh perjalanan, dunia hanyalah tempat persinggahan dari sebuah perjalanan panjang. Mumpung kapal yang kita tumpangi, belum berangkat marilah kita mengisi bekal ini dengan sebaik-baiknya karena kebaikan adalah bekal abadi sampai akhir masa.

%d blogger menyukai ini: