PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU


PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU

MELALUI PENELITIAN TINDAKAN KELAS

“Penelitian Tindakan Kelas (PTK) saat ini mungkin menjadi barang baru dan semakin trend dilakukan dan dikembangkan oleh para profesional guru sebagai upaya untuk memecahkan masalah dan peningkatan mutu di berbagai aspek pembelajara”

Guru yang baik adalah guru yang punya komitmen untuk mengevaluasi, mengoreksi dan mengintropeksi diri terhadap semua bentuk kekurangan dan kelemahan dalam semua aspek kegiatan pembelajaran. Evaluasi dini sangat dibutuhkan karena mencakup validitas keberhasilan dan ketercapaian sebuah pembelajaran sebagai bentuk pertanggung jawaban baik kepada Tuhan, sekolah, lingkungan, dan dirinya sendiri. Evaluasi itu mulai dari perangkat, skenario pembelajaran (teknik dan strategi pemelajaran),
Seorang guru yang tidak mau mengenal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berarti guru tersebut belum mampu menyerap dan mengeksploitasi terhadap semua bentuk kelemahan dan kekurangan dalam kegiatan belajar mengajar terutama menyangkut hasil akhir pembelajara. Karena hasil akhir ini akan menjadi jawaban dari sebuah pertanyaan, apakah tingkat ketercapaian sudah memenuhi target maksimal, ketuntasan belajar atau siswa sudah kompeten sesuai dengan indikator….? Secara umum selain melaksanakan kegiatan belajar mengajar dan model evaluasinya guru juga dituntut untuk lebih peka dan profesional terhadap kemampuan yang dimiliki. Walaupun secara teori tidak ada metode yang lebih jitu atau paling bagus, karena tiap-tiap guru memiliki kultur dan model pembelajaran yang berbeda yang belum tentu bagus atau berhasil digunakan oleh guru yang lain. Tetapi dengan adanya PTK ini diharapkan ada tindak lanjut dan motivasi untuk merefleksi diri serta mengukur tingkat keberhasilan, bahwa tidak hanya siswa yang perlu dievaluasi tetapi guru juga perlu dievaluasi oleh dirinya sendiri.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) saat ini mungkin menjadi barang baru dan semakin trend dilakukan dan dikembangkan oleh para profesional guru sebagai upaya untuk memecahkan masalah dan peningkatan mutu di berbagai aspek pembelajaran. Bukan pelengkap porto folio untuk mendapatkan sertifikat khusus sertifikasi guru, tapi PTK ini hasilnya bisa dijadikan konsumsi publik baik melalui forum seminar, loka karya, sarasehan dan forum-forum resmi lainnya untuk menghasilkan sebuah pemecahan yang dihadapi para guru selama mengajar. PTK ini akan menjadi jawaban dan solusi untuk memecahkan problem yang berkaitan dengan tujuan pemelajaran secara umum.
PTK sebagai penelitian yang berbentuk terapan, sangat berguna bagi guru untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pemelajaran di kelas. Pedoman yang digunakan harus tetap mengacu pada tahapan-tahapan PTK pada umumnya. Intinya guru dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelasnya sendiri (bukan kelas orang lain) yang patokannya mengacu pada ragam teori dan teknik pemelajaran yang relevan. Di samping sebagai penelitian terapan, tugas utama guru harus tetap dilaksanakan (mengajar dan mengevaluasi) karena PTK merupakan kegiatan investigasi yang terintegrasi dengan proses pembelajaran atau tetap melaksanakan KBM dan tidak perlu meninggalkan siswa di kelas. Kegiatan PTK tidak akan mengganggu proses belajar mengajar jika guru mampu dan profesional dalam menempatkan dirinya sendiri sebagai praktisi atau peneliti dan juga guru yang sedang mengajar (menjalankan tugas mulianya).
Dalam kapasitasnya sebagai seorang pendidik tidak perlu ada kekhawatiran dalam benaknya untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas, karena PTK bukan mahluk menakutkan yang akan mengganggu eksistensi dan kredibilitasnya, justru PTK merupakan kebutuhan bagi sebagian besar guru, karena :
PTK dapat meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi guru yang mampu melihat jati dirinya, kompeten, dan profesional, karena kapasitas guru bukan lagi sebagai seorang praktisi yang telah merasa puas terhadap segala sesuatu yang telah dikerjakan bertahun-tahun tanpa adanya upaya perbaikan dan inovasi, namun sebagai peneliti di bidangnya.
PTK sangat cocok untuk menjadikan guru peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya, semangat reflektif dan kritis terhadap apa yang guru dan murid kerjakan.
Dengan melaksanakan prosedur yang benar, dalam PTK guru mampu memperbaiki proses KBM melalui suatu kajian teori yang mendasar terhadap problem yang terjadi di kelas.
PTK akan mereformasi guru untuk menjadi kreatif karena tuntutan perubahan dengan melakukan upaya-upaya inovatif sebagai wujud implementasi, adaptasi dan penyamaan persepsi dalam berbagai teori dan teknik pembelajaran, teknik evaluasi, metode, dan media serta bahan ajar yang digunakan.
Dari penggambaran di atas barangkali akan memperkuat komitmen guru bahwa PTK bukan mahluk menakutkan tapi sebagai mutiara yang berkilau di tengah lautan dan akan menjadi dambaan semua orang (profesional guru). Terasa berat dan membebani, kalau kita hanya berkutat pada satu aspek pemahaman dan tidak seperti katak dalam tempurung, menganggap dirinya paling besar, paling hebat, paling bisa, dan menjadikan orang-orang di sekelilingnya kecil. Sehingga ketika dihadapkan pada sebuah even yang menuntut kita kompeten dan profesional, dianggap sebagai bom waktu yang setiap saat akan mengancam dirinya. Padahal PTK akan memberikan sumbangan besar terutama bagi pemerhati dan pelaksana pendidikan untuk meningkatkan kinerjanya ke arah yang lebih baik
Walaupun penelitian tindakan kelas baru dikenal pada akhir dekade 80-an, namun sampai sekarang keberadaannya masih dianggap sebagai jenis penelitian model baru. Substansinya masih banyak menimbulkan pro dan kontra , terutama jika dihubungkan dengan bobot keilmiahannya. Namun secara global akan memberi akses positif terutama bagi guru yang akan melakukan terobosan baru, mengimplementasikan hasil penelitian secara sistematis reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukannya sebagai bentuk evaluasi diri ke dalam perubahan-perubahan yang menyangkut penataan aspek pembelajaran. Karena sebuah system akan berpengaruh jika orientasinya lebih menekankan pada dasar dan logika yang benar, prinsip, dan sesuai aturan yang telah ditetapkan.
Adapun kharakteristik penelitian tindakan kelas yang sering dijadikan dasar untuk melakukan penelitian tindakan kelas walaupun menimbulkan sikap dilematis dan senjata makan tuan seperti yang diungkapkan Richart winter meliputi enam karakteristik, yaitu kritik reflektif yang menekankan adanya upaya refleksi terhadap hasil observasi mengenai latar dan kegiatan suatu aksi, tetapi di dalam PTK makna refleksi lebih menekankan pada suatu upaya evaluasi atau penilaian yang membutuhkan kritik sehingga memungkinkan pada taraf evaluasi terdapat perubahan-perubahan yang akan dijumpai. Karakteristik yang kedua adalah kritik dialektis yang menekankan pada eksistensi guru dan bersedia melakukan kritik terhadap fenomena yang ditelitinya, selanjutnya peneliti akan bersedia melakukan pemeriksaan terhadap konteks hubungan secara menyeluruh yang merupakan satu unit walaupun dipisahkan secara jelas. Pemeriksaan berikutnya adalah terhadap struktur kontradiksi internal (dibalik unitnya yang jelas) yang dimungkinkan adanya kecenderungan mengalami perubahan meskipun sesuatu yang berada di balik unit tersebut bersifat stabil. Karakteristik yang ketiga adalah kolaboratif yang menekankan pada hadirnya suatu kerjasama dengan pihak-pihak lain seperti sejawat atau kolega, pihak atasan (kepala sekolah), dan sebagainya ( sebagai sumber data atau data sumber), karena kedudukan peneliti dalam PTK merupakan bagian dari situasi dan kondisi dari suatu latar yang ditelitinya. Dalam hal ini peneliti kapasitasnya tidak hanya sebagai pengamat, tetapi juga terlibat langsung dalam suatu proses situasi dan kondisi. Bentuk kolaborasi atau kerjasama diantara para anggota situasi dan kondisi itulah yang menyebabkan suatu proses dapat berlangsung. Fungsi kolaborator dalam penelitian hanyalah sebagai pembantu, bukan sebagai pihak yang menentukan terhadap pelaksanaan dan berhasil tidaknya suatu penelitian. Karakteristik yang keempat adalah resiko, pada jenis ini diharapkan agar peneliti (guru) berani mengambil resiko terutama pada waktu proses penelitian berlangsung, misalnya melesetnya hipotesis seperti yang ditakutkan oleh sebagian kecil peneliti dan adanya tuntutan untuk melakukan suatu transformasi. Ketakutan akan muncul pada karakteristik jenis ini karena mereka tidak mau mengambil resiko terhadap apa yang ditelitinya yang bisa merendahkan jati dirinya. Akibatnya melalui keterlibatan dalam proses penelitian, aksi peneliti kemungkinan akan mengalami perubahan pandangan, karena ia menyaksikan sendiri adanya diskusi atau pertentangan dari para kolaborator yang akhirnya menyebabkan pandangannya berubah
Karakteristik berikutnya adalah menyangkut susunan jamak, dalam hal ini penelitiian PTK memiliki struktur jamak karena penelitian ini bersifat dialektis, reflektif, partisipatif atau kolaboratif. Susunan jamak ini berkaitan dengan pandangan bahwa yang diteliti harus mencakup semua komponen pokok supaya bersifat komprehensif. Contohnya jika yang diteliti adalah situasi dan kondisi proses belajar mengajar maka situasinya harus meliputi guru, siswa, tujuan pendidikan, tujuan pembelajaran, interaksi belajar mengajar, lulusan atau hasil yang dicapai dan sebagainya.
Sementara karakteristik yang terakhir yaitu internalisasi teori dan praktik, dalam bagian ini, teori dan praktik bukan merupakan dua dunia yang berlainan, tetapi keduanya merupakan dua tahap yang sama saling bergantung dan berfungsi mendukung transformasi. Logikanya keberadaan teori diperuntukkan untuk praktik dan begitu sebaliknya sehingga keduanya dapat digunakan dan dikembangkan bersama. Sehingga kita dapat mengasumsikan bahwa PTK benar-benar berbeda dengan bentuk penelitian yang lain, baik penelitian yang menggunakan paradigma kualitatif maupun kuantitatif, oleh karena itu keberadaan PTK tidak perlu lagi diragukan dan ditakuti seperti mahluk aneh yang menakutkan, terutama sebagai upaya untuk memperkaya ilmu pengetahuan yang menyangkut penelitian dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan validitas keilmiahannya.
Dengan adanya PTK profesionalisme guru akan tertantang walaupun hanya dengan dua pilihan mau maju atau hanya berdiam diri, pasif, dan monoton dengan segala resiko yang akan dihadapi oleh lingkungan, masyarakat, orang tua, pemerhati, terutama menyangkut aspek kredibilitas dan akuntabilitas public yang setiap saat akan berhadapan dengan kita. Walaupun bukan suatu keharusan dari diri kita tetapi panggilan hati nurani akan mengetuk kita sebagai orang yang paling berjasa dan berpengaruh dalam membentuk mental generasi yang berjiwa intelektual. Segala problem akan terjawab, jika guru sudah melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) mulai dari kelemahan dalam menyediakan media pembelajaran, penggunaan metode dan praktik pembelajaran serta semua kesulitan-kesulitan dan alasan rasa jenuh yang dialami siswa selama KBM berlangsung, termasuk di dalamnya hasil evaluasi yang tidak sesuai dengan harapan dan tujuan yang telah ditetapkan dalam indicator.
Mulailah dari sekarang dan untuk masa yang akan datang, tentunya harus berangkat dari teori-teori yang relevan sebagai acuan untuk melakukan tindakan koreksi, refleksi, dan menciptakan inovasi untuk sebuah perbaikan yang menjadi tugas utama. Selanjutnya dalam melaksanakan PTK bisa dilakukan dengan 1-3 siklus denga 4 tahapan yang berkesinambungan meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi tindakan. Pada tahap awal PTK tidak semudah yang kita bayangkan , karena memerlukan komitmen dan kesabaran. Kemampuan melaksanakan PTK hanya bisa dicapai dengan membiasakan diri untuk melaksanakannya, oleh sebab itu segeralah untuk memulai mencoba melaksanakan kegiatan penelitian tindakan kelas di kelasnya baik secara individu ataupun secara kolaborasi. Karena dengan komitmen seperti ini guru akan dapat mempertahankan predikatnya sebagai seorang profesionalis, ilmuan bukan sebagai seorang praktisi belaka, namun sebagai penulis dan peneliti. Selamat mencoba semoga Tuhan meridoi niat baik kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsasumber dan bahan belajar, media pemelajaran, serta model evaluasi pada kegiatan akhir pemelajaran, untuk mengetahui tingkat ketercapaian tujuan dan indikator yang telah ditetapkan dalam kurikulum atau silabus yang menjadi acuan. Salah satu faktor timbulnya kejenuhan yang dialami oleh siswa merupakan fenomena awal yang perlu diatasi langsung melalui kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

4 Tanggapan

  1. Assalamu ‘alaikum mas, demi menjalin silaturahmi sesama Blogger marilah kita saling bertukar link, gimana mas?? Salam kenal yah dari Dedhy Kasamuddin😀

    • wa’alaikum salam. salam kenal juga dari sucitro hadi santoso sebagai editor di blog ini kali ini. boleh aja bertukar link tapi sayangnya sebagai editor saya juga kurang mengerti mas bagaimana caranya
      terima kasih

  2. ass.
    Kami SMK Islam Tanjung memohon solusi untuk cepat keluarnya sk operasional. padahal aku udah bulan mei menyetorkan proposl tapi sampai sekarang tidak ada tindak lanjut dari Diknas Sampang

    • jangan sekedar diusulkan
      sambil lalu di sambangi di kantor dinas dan ditanya tentang ijin operasionalnya
      maju dan terus berkembang dunia pendidikan

      SMK BISA………………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: