PEREMPUAN – PEREMPUAN PERKASA


PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA

“Dunia telah berubah seakan telah membimbing ke arah sinar terang seiring datangnya cahaya harapan dalam memperjuangkan sebuah cita-cita mengangkat harkat dan martabat oleh sebuah penindasan karena ketidak- adilan. Dulu, kini, dan esok tak ada lagi penindasan, perbudakan, dan penghinaan karena gelap telah pergi dan datangnya sinar terang”

Babak I

Kisah ini diangkat dari sebuah perjuangan seorang wanita dalam memperjuangkan hak-haknya sebagai seorang wanita dalam perspektif gender. Tak ada lagi perbedaan yang bisa memperkuat perbuatan sewenang-wenang, pertarungan dan pertaruhan antara iman dan keberanian walaupun iman harus menjadi pertaruhan terakhir.
Di sebuah perkampungan kumuh terdapat sebuah kehidupan rumah tangga yang selalu dihantam badai, pertengkaran , caci maki, dan tak segan-segan tangan yang berbicara, kesemuanya disebabkan perbedaan prinsip, egoisme, dan idealisme tanpa memandang celah kebaikan yang dapat dipetik sebagai hikmah dari sebuah kerendahan hati.

Tini : Hidup ini selalu penuh dengan liku dan perjuangan ya…! Seorang wanita harus selalu berada di bawah, karena kodrat setiap waktu membelenggu dan memasung sebuah kebebasan. Aku masih ingat dengan sebuah puisi, mudah-mudahan ini akan mengingatkan aku dalam meniti jalan hidup yang bergelombang

PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA


Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
kemanakah mereka….?Ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
sebelum peluit kereta pag iterjaga,
sebelum hari bermula dalam pesta kerja
Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
kemanakah mereka….?

Di atas roda-roda baja mereka berkendara
mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
kemanakah mereka….?

Mereka ialah ibu-ibu yang perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka; cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa

Aditya : Alaaah, hari gini masih percaya dengan gitu-gituan..!
Tini : Emangnya kenapa kang….apa nggak boleh kita berhalusinasi…?
Aditya : …”boleh-boleh saja, tapi yang namanya wanita sampai kapanpun tetap menjadi anggota DPR alias da….pur..hahahahahahaha….!”menghina.
Tini : Ya…nggak lah kang, bagaimanapun juga kita harus menghargai kodrat, bukankah tanpa seorang wanita…akang tidak akan pernah lahir ke dunia….?
Aditya : ya… ia…lah, tapi kamu jangan sombong, tanpa seorang laki-laki manusia ini tidak akan tercipta..!
Tini : ia…kang, perdebatan ini tidak akan ada habisnya seperti antara telur dan ayam yang sampai sekarang kita kagak tahu lebih duluan yang mana…?
Aditya : sudahlah…. aku gak mau berdebat, pokoknya wanita itu yah, selamanya akan tetap menjadi korban,,,ha….ha…..ha…..ha…..
Tini : Korban apa kang, jangan gitu dong…bagaimanapun juga aku ini kan istrimu yang dulu kamu agung-agungkan…!
Aditya : kamu belum tahu rasanya di tempeleng, mau…..?..”huuuh dasar wanita kampungan, kumuh, dan norak lagi !”sambil ngangkat tangannya yang hampir menempelkannya ke pipi isterinya bak buah jambu yang baru masak.

Babak II

Melihat Aditya yang sudah kehilangan kontrol emosinya, sambil menunduk Tini meninggalkan suaminya yang masih marah karena perdebatan keduanya yang terkesan memojokkan Aditya. Setelah melihat Tini hilang dari balik pintu, seperti biasa Aditya meninggalkannya tanpa pamit dan berlalu begitu saja untuk curhat ke teman-temannya yang selama ini dianggapnya akrab. Sore itu dia berusaha untuk meluapkan perasaannya yang dianggapnya bagian dari sebuah perlawanan.

Aditya : Assalamualaikum…!
Dewi : waalaikum salam, eh kamu dit!
Aditya : Lagi ngapain nih… nyantai…. Sibuk…. Atau lagi berdebat…?
Dewi : “apa-apan sich ini, jangan-jangan lagi berantem ya…?
Aditya : Ya, ia lahhhhh….kamu tahu kan, di keluargaku tiada hari tanpa berdebat!
Dewi : apa yang lagi diperdebatkan, istrimu kan orangnya baik.
Aditya : “….dia suka mempertahankan prinsipnya…yang katanya wanita perkasa lah”…!
Dewi : “…jangan-jangan kamu ngiri ya, karena istrimu pinter…?””
Aditya : pinter apaan, yang ada cuma bego, norak, dan kampungan…!” keluhnya menghina.
Dewi : sudah…sudah! daripada berdebat, mendingan kamu baca buku ini!
Aditya : buku apa, aku gak senang baca dan kamu tahu kan kesibukanku, jangankan baca buku terkadang istirahat saja atau kumpul sama istri jarang….!”
Dewi : wah….wah…wah! “jangan-jangan ini yang bikin istrimu sering ngajak debat….!”vonisnya menyalahkan.
Aditya : “aku gak tahu, pokoknya rasa bosan itu selalu menghantuiku!
Dewi : “cobalah baca buku ini, barangkali berguna…”!
Aditya : buku apaan…?
Dewi : Buku-buku perjuangan seorang perempuan…! Perjuangan seorang wanita dalam memproklamasikan kebebasan.
Aditya : maksud lho…apa?
Dewi : barangkali kalau kamu baca buku ini, kamu akan menguasai dan bisa memahami sifat kelebihan dan kelemahan seorang wanita. Kebebasan yang aku maksud adalah kebebasan dari belenggu peradaban…!”
Aditya : bingung aku…Wi!
Dewi : tulalit lho, maksudku perjuangan seorang wanita dalam menyamakan harkat dan martabat kaum hawa.
Aditya : sama saja dengan isteriku, bego tahu…?
Dewi : nah lho, itu khan sifat kamu, pantas saja Tini sering ngelawan….kamunya gitu sich..!
Aditya : Sudahlah, gak usah pakek gini-ginian, yang harkat lah, martabat lah, gender lah…! kamu akan lemah kalau sudah berhadapan dengan hukum agama”….!
Dewi : tidak dit, justru agama merupakan wadah utama untuk meletakkan harkat dan martabat kaum hawa di sisi keadilan!”
Aditya : jangan ceramah di depan aku, aku ke sini minta bantuan kamu bukan dengarkan ceramah agama….!”

Babak III

Belum selesai pembicaraan kemudian datanglah 3 orang teman Dew,i Ica, Olga, dan Fitri dengan penampilannya yang khas masa kini. Mereka adalah teman-teman Dewi yang berlatar belakang keluarga mampu, maju, dan modern.
Ica : hallo Wi……….!
Olga : hallo semua….!
Fitri : hallo kang Adit yang ganteng…!
Dewi : “ee..ee…ehh kamu kok sok akrab, sok kenal, dan sok dekat…emangnya?”
Fitri : ya….ia….laaahhh, dulu kang Adit bekas pacar aku…!” karena dulu dia kere alias gak berduit, jadi aku gak mau ama dia….hahahahahaha..!”
Aditya : Hallo….semua, ternyata kamu hebat – hebat..ya!”
Dewi : apanya yang hebat, gak ada yang istimewa kok…!”
Ica : ia, nich gak ada yang spesial..!
Olga : ada-ada saja kang Adit.
Fitri : tapi kalau aku lain, memang gitu dech, kang Adit gak mungkin ngejar-ngejar aku kalau aku gak…ehhhhhemmmm….!”
Aditya : ya….ya…tapi ini mumpung kalian berkumpul, aku ada problem berat di keluargaku terutama istriku. Kamu tahu khan…?” akhir-akhir ini sikapnya Tini berubah dan tidak bisa melupakan budaya kampungnya, pakaiannya norak, kampungan, dan kalau ke mana-mana selalu bikin malu”…!
Olga : itu perlu di reformasi dit…!
Ica : betul, kalau gak bisa direformasi tinggalin aja…..oke nggak?
Fitri : lagian ngapain ama orang desa, mendingan cari yang baru dan modern.
Dewi : hussss…kalian ini gak boleh gitu dong, kita gak boleh lupakan sejarah….cobalah ingat kisah perjuangan RA Kartini, ingat khan perjuangannya dia…?”tanyanya sembari menunjuk buku yang dipegangnya.
Aditya : dari namanya desa bangeeets…!
Olga : emangnya istri kamu namanya siapa….Donita….Rieke….atau Olga…haaaaahhh?”nadanya mengejek.
Ica : ….”atau I…..c……a…. alias Ica..!”tertawa panjang
Fitri : …”atau Fitri…nih yang kaya artis sinetron….hehehehehehe.
Aditya : namanya T….i….n…i alias Tini…hahahahaha
IOF : ha….ha….Tini….Tini…..Tini…..haahahahahahahah! tawanya ngejek sambil mencubit pipi Aditya.
Dewi : “sudahlah, Ica Olga Fitri…kita nggak boleh gitu, nama itu pemberian ortu kita lho….. jadi gak boleh melecehkan atau meremehkan…!” bagaimana seandainya nama itu diberikan ke kamu, apa kamu gak marah jika dihina seperti ini…?”tanyanya sambil menggelengkan kepala.

Babak IV

Ketika sedang asyik berbincang-bincang, mereka dikejutkan oleh kehadiran seorang wanita cantik, lugu, dengan dandanan yang mirip ibu rumah tangga, wanita itu tidak lain adalah istri Aditya berjalan menghampiri suaminya yang sudah satu minggu meninggalkannya tanpa alasan dan kepastian.

Tini : assalamualaikum….!
Dewi : waalaikumsalam…mari silahkan…?
Tini : lagi nyantai ya, maaf yaaa mengganggu..!
Dewi : Maaf mbak, kalau boleh tahu mbak ini siapa ya?
Olga : jangan-jangan…?
Ica : apaan ga..?
Fitri : ia nich….kayak kenal aja!
Aditya : benar….apa yang dikatakan Olga benar, dia adalah orang desa yang aku ceritakan tadi
Dewi : jadi mbak ini istrimu Dit..?”tanya Dewi tercengang
Aditya : ia, emangnya kenapa?
Olga : pantas saja kamu minggat
Ica : penampilannya nggak modern lagi
Fitri : cantik sih cantik, tapi kaya mas tukul arwana aja…wong deso !” menghina
Tini : Maaf , kang………mengapa akang pergi dari rumah tanpa sepengetahuanku dan tanpa alasan lagi….kenapa kang….?”
Aditya : itu urusanku, kamu gak usah mikirin aku lagi dan mulai sekarang lupakan akang”!
Tini : kang, masih ada waktu untuk kita selesaikan baik-baik
Aditya : sudahlah, malu aku punya istri seperti kamu…kuno, norak, gak modern, dan ndeso.
Tini : “….aku kuno, kan akang yang minta…!
“….aku norak, akang yang minta kan ..?
“….aku gak modern, akang juga yang minta kan …?
Sebenarnya yang kuno, norak, gak modern, dan ndeso akang atau Tini…?
Aditya : …” namanya ndeso, tini….apaan, kayak gak ada nama lagi!
Tini : kang, jangan naïf deh….” Apa gak salah dan yang mengubah namaku akang juga kan..?”sahutnya kesal
Aditya : (aditya tidak menjawab, tertegun sejenak, sembari menatap Tini)
Tini : “…akang masih ingat dengan nama Olivia bin Abdul Majid..?
Aditya : (terdiam dan tercengang)
Tini : “…jangan habis manis sepah dibuang,….kang ! Olif tidak akan menggunakan nama Tini, kalau bukan akang yang minta….Olif lakukan ini semuaa karena akang…!”
…”akang masih ingat dengan penampilan ini..?”sembari membuka jarit yang dipakainya dan penutup kepala atau jilbab yang tidak pernah lepas kecuali saat mandi.
Aditya :…”maafkan aku Tin…!”sembari memegang tangan Tini
Tini : ada satu hal yang perlu akang ingat….dasi…mobil….rumah…, dan semua fasilitas ini dapat dari mana…kang?”
…”dari papi semua kang…?
Aditya : …”Tin, jangan gitu dong…!
Tini : tidak kang, aku lakukan semua perintah akang karena Tini ingin mengabdi pada akang sebagai suami Tini….”jadi aku turuti semua perintah akang dan jadilah penampilan seperti ini…!”sambil menunjukkan pakaian yang dikaguminya selama ini
Dewi : Dit, sebaiknya lho pulang aja dech! Aku gak enak sama Tini.
Ica : dasar…laki-laki pengecut!
Olga : yang namanya kere tetap kere Dit!”
Fitri : belagu lho..”!sambil mendorong Aditya dengan tangannya

Babak V

Akhirnya Aditya menyesal dan meminta maaf sama Tini, namun hal ini bagi Tini sebagai sesuatu yang menyakitkan. Dengan memegang teguh prinsip, akhirnya Tini kembali ke masa muda sebagai perempuan-perempuan perkasa yang kaya ideologi, prinsipil, dan modern. Tini ingin menunjukkan pada dunia, bahwa seorang wanita tidak selamanya berada di bawah dan menuruti kata hatinya, tertindas, tertekan, dan gak punya keberanian.

Tini : “….sebenarnya nama akang bukan Aditya, tapi Abdurrahman bin Sudjono.
Jadi mulai saat ini biar Tini panggil akang dengan sebutan “kang Rahman” dan sebaiknya kita kembali ke kehidupan yang sebenarnya…”
Aditya : jangan Tin, aku gak mau keluar dari mimpi-mimpi ini..!
Tini : bangun kang, hari sudah pagi saatnya kembali ke kehidupan nyata…ini kan kemauan akang…?
Aditya : tolong aku Tin, aku gak mau kehilangan mimpi ini
Aku……baru pakai dasi
Aku……baru menikmati rumah mewah dari kamu
Aku……baru pegang setir mobil
Aku……baru menikmati indahnya perkawinan…!” pintanya merendah
Tini : terlambat kang, sakit hati ini….satu minggu akang tinggalin Olif, maaf sekarang namaku bukan Tini tapi Olifia bin Abdul Majid, jadi pantasnya akang dibalas….tinggalin akang untuk selamanya, ini kan yang diiinginkan akang..!”
Aditya : jadi aku harus bagaimana dong..?”nadanya menyesal
Tini : akang sudah tujuh tahun hidup dalam mimpi, jadi saatnya bangun dan kembali ke khidupan nyata…kere…sekali lagi kere! Huuuh…”

Maksud hati ingin memeluk gunung tapi apa daya tangan tak sampai, bukan pucuk dicinta ulam tiba tapi sudah jatuh ketimpa tangga lagi. Itulah yang terjadi di kehidupan rumah tangga yang terlalu berpegang teguh pada pendirian yang tidak prinsipil dan memandang sebelah mata orang lain. Harta, pangkat, dan jabatan hanya bagian kecil dari sebuah motivasi menuju kehidupan yang bahagia, tapi merajut kebersamaan dan rasa saling percaya adalah harta yang paling utama dan tidak semua orang memilikinya

Olefia : kini aku bukan Tini kang, tapi Olifia bin Abdul Majid deretan perempuan-perempuan perkasa pejuang keadilan kaum Hawa yang tidak bisa semena-mena di jajah oleh kaum laki-laki yang otoriter dan kejam.
Aditya : Olif, kalau aku bisa bersujud dihadapanmu dan bisa menjadi obat sakit hati kamu, akang akan lkuin semua asalkan kita kembali ke kehidupan awal perkawinan kita, mengenang saat-saat terindah masa lalu.
Olefia : tidak kang, mungkin ini bagian dari hidupku yang sudah tidak percaya lagi dengan laki-laki
Aditya : aku bisa stress dan gila Olif…”!
Olifia : sudahlah, kita ketemu di pengadilan agama saja kang, biar nanti papi semua yang ngurus surat-surat perceraian kita.

Akhirnya mereka berpisah dan pengadilan agama memenuhi pengajuan cerai yang dilayangkan Olifia, sementara Aditya alias Abdurrahman bin Sudjono harus menikmati hari-harinya sebagai seorang pengemis jalanan yang sudah tidak meiliki apa-apa, karena semua fasilitas, rumah, mobil, dan yang lainnya telah diminta kembali oleh orang tua Olifia. Seperti pada janji semula, bahwa Olifia akan menjadi seorang perempuan-perempuan perkasa, tidak mengenal arti pernikahan, dan menjauhi semua laki-laki yang mendekatinya. Kebencian tidak menyelesaikan masalah, hingga suatu ketika di saat acara pertemuan tingkat tinggi (Olifia diundang sebagai tokoh pembicara) pada seminar tentang “tantangan perempuan di tengah isu poligami”, Olifia sempat melihat seorang pengemis di depan hotel tempat dia diundang sebagai pembicara. Sempat tertegun dan mengingat-ingat dalam bayangan masa lalunya, tiba-tiba dia tersentak dan sambil meneteskan air mata :
Olifia : maaf, ya pak…bapak ini sepertinya pernah saya kenal..?
Pengemis: buk, kasih saya uang sedikit, saya sudah dua hari gak makan…!
Olifia : (dia kaget, ternyata orang yang dihadapanya adalah mantan suaminya)
Pengemis: ibuk ini siapa ya, maaf mata saya gak bisa melihat…dua tahun sejak ditinggal istri, penghilatan saya terganggu, kata dokter ada gangguan pada syaraf.
Olifia : (sambil menangis) kang, ini aku kang Olifia atau dulu pernah akang kenal…masih ingatkah akang…?
Pengemis:jadi….jadi kamu Tini kan…?”sambil memegang tangan Olifia
Olifia : Kenapa akang jadi begini..?
Pengemis: sejak kau tinggalkan aku dua tahun yang lalu, aku kehilangan segala-galanya, penglihatanku kabur Tin…!”
Olifia : ya sudahlah kang, aku ke ruangan dulu, akang jangan ke mana-mana, aku Cuma ngisi acara sebentar
Pengemis: ya Tin, tapi tolong carikan aku makan sebentar sudah dua hari aku gak makan.

Dengan penuh wajah sedih Tini meninggalkan pengemis yang tidak lain adalah bekas suaminya yang pernah singgah dikehidupannya, kini bingung dan sedih menghantui pikiran Tini, kembali ke suaminya atau memegang teguh prinsip. Tapi seperkasa apapun hati seorang wanita, akhirnya luluh juga karena hati nuraninya selalu diselimuti rasa kasih sayang. Akhirnya Tini mengajak Aditya ke apartemennya yang kemudian membawa bekas suaminya ke Singapura untuk melakukan operasi, Tuhan selalu memberikan petunjuk dan mengasihi orang-orang yang berhati rendah dan sabar. Kini mereka (Olifia alias Tini dan Abdurrahman alias Aditya) telah kembali menjadi seorang suami istri yang penuh kebahagiaan dan dibangun melalui puing-puing kebersamaan dan saling percaya.

%d blogger menyukai ini: