Drama “BAYANG-BAYANG KHOLIFAH”


BAYANG-BAYANG

KHOLIFAH

Oleh : Akhmad Suaidi, S.Pd

Semua orang mengatakan bahwa menjadi seorang pemimpin tidak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi masyarakat yang dipimpinnya termasuk pemimpin yang terbelakang dan menganggap semua persoalan hidup adalah tanggung jawab pemimpin. Kemiskinan menjadi gambaran dan ujian seorang pemimpin dalam menyelesaikan tugasnya. Fitnah dan adu domba  merupakan santapan setiap waktu yang akan mengantarkan seorang pemimpin mendapat gelar sejati bahwa pemimpin tersebut telah berhasil melewati masa-masa tantangan. Inilah gambaran singkat sisi kehidupan seorang kholifah dalam menjalankan misi perjuangan menegakkan syariah dan mengembalikan kepercayaan pada ummat, bahwa dia diutus ke dunia hanya untuk memperbaiki sisi kehidupan yang mengalami dekadensi moral dan ahlak. Inilah kisahnya seorang pemimpin dunia yang adil, berani, dan mampu membawa perubahan secara radikal.

Siang itu di sebuah padang pasir hiduplah seorang wanita tua  dan anaknya yang masih kecil yang hidup dengan kesederhanaan, serba kekurangan, dan telah ditinggal mati suaminya karena penyakit yang berkepanjangan karena derita yang tiada henti………………………………’’’’’’’’’’’’’’’’’

(nampak dari kejauhan seorang ibu dengan berpakaian kumuh sambil mengangkat gentong air untuk dimasak, dan sambil mengangkat perapian kayu, ibu tua itu sesekali menangis melihat anaknya yang masih terbaring sakit…ibu itu tampak mengeluh..”’)

Ibu tua                          : …..Tuhan, kapan kau akan memberikan kebahagiaan dan mengakhiri kesedihan  dan penderitaan yang tiada kunjung akhir ini ?

Haidir Ali         : (terbaring sambil berselimut dan mengenakan kompres)….Ummi,  saya lapar ………saya lapar, mengapa Ummi selalu mengatakan kalau yang ditungku itu belum matang…apa yang dimasak Ummi?”

Ibu tua             : Belum nak, bersabarlah ya! Sebentar lagi mateng, pasti akan Ummi kasihkan !

Haidir Ali         : Ummi, Badanku panas, kepalaku pusing, dan perutku sakit, ………ummi sudah tiga hari Haidir gak makan, apakah nasibku seperti Abi………mati karena gak ada yang bisa membantu mengobati…?

Ibu tua             : Haidir, nasib kita tidak akan begini kalau pemimpin kita melihat ke bawah dan tidak hanya menikmati kebahagiaannya sendiri..?

Haidir Ali         : Ummi, kita ini bangsa kecil yang selalu dengan ketertindasan…….katanya kholifah itu baik hati, jujur, dan peduli dengan ummatnya…mana ummi?

Ibu tua             : Ali, itu hanya omong kosong nak…!

Haidir Ali         : Ummi, Tapi benar khan, kalau sang kholifah itu baik hati dan suka menolong yang miskin…?

Ibu tua             : Sudahlah nak, kita ini hanya orang kecil yang hanya hidup dengan kemelaratan…kholifah itu hanya cerita sejarah!

Haidir Ali         : Ummi, aku lapar…aku mau makan….aku gak tahan… aku mau mati saja !

Tiba-tiba dari kejauhan nampak seseorang dengan berpakaian surban lengkap dan ditangannya masih tergenggam tasbih sambil sesekali mengucapkan lafal laailaahaillallah dengan dikawal dua orang pengawal yang berpakaian ala seorang prajurit sambil mendekati gubuk tua yang ditempati ibu tua dan Haidir Ali….!

Kholifah           : Assalamualaikum Ummi….sambil menganggukkan kepala ?

Ibu tua                          : waalaikum salam, ahlan wasahlan ….mari silakan duduk tuan ! sambil menggantikan kompres yang sudah mulai menghangat.

Kholifah           : Ummi tinggal sendirian di sini, kemana suami ummi kok gak kelihatan…..? tanya kholifah sambil mendekati Haidir yang lagi berbaring.

Ibu tua              : (sambil sesekali meneteskan air mata)…maaf tuan, suami saya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena sakit yang berkepanjangan…!

Kholifah           : emangnya suami Ummi sakit apa…?

Ibu tua              : Sakit karena kemiskinan, sehingga sakitnya gak bisa disembuhkan..!

Kholifah           : (tersentak dan seakan serba salah)…maksud Ummi apa ?

Ibu tua              : Ketentuan Allah tidak bisa ditolak oleh setiap ummat manusia, tapi hal ini akan terlewati kalau pemimpin kita adil dan peduli terhadap rakyatnya !

Kholifah           : sebenarnya siapa pemimpin yang ummi maksud..?

Ibu tua              : Kholifah Umar yang katanya berani, jujur, dan peduli dengan kemiskinan..!

Khlofah            : (kembali tercengang dan menatap ibu serba salah)….benarkah kholifah telah berbuat seperti itu…?

Ibu tua              : Benar tuan, katanya beliau selalu peduli dengan rakyatnya yang miskin tapi mana buktinya….? Lihatlah sendiri suami saya sampai akhir hayatnya belum merasakan keadilan dan kemakmuran yang diagung-agungkan…!

Kholifah           : sampai anak ummi juga merasakan penderitaan yang sama…?

Ibu tua              : benar tuan, bahkan kami sudah tiga hari ini gak makan dan anak kami sakit bukan karena apa, tapi karena lapar yang berkepanjangan .

Kholifah           : Kejam sekali kholifah itu ya Ummi..?

Ibu tua              : Bukan kejam lagi, tapi kebangkitan fir’aun seakan reingkarnasi !

Kholifah           : maaf ummi, apa yang dimasak ummi mulai tadi kok gak mateng-mateng?

Ibu tua              : (sambil mengusap air mata karena melihat penderitaan anaknya yang sakit)…maaf tuan, kami telah menipu anak kami bahwa yang kami masak dari tadi hanyalah air yang dicampur batu…!

Kholifah           : mengapa ummi berbuat begitu…?

Ibu tua              : kami sudah tidak punya apa-apa, bahan makanan aja sulit apalagi sampai masak…jadi kami selalu menjawab ….sebentar lagi mateng nak..? padahal tidak ada nasi yang kami masak!”

Kholifah           : (tertegun sejenak sambil berucap kata)..astaghfirullah…ampunilah hamba ya Allah…!

Ibu tua              : Tuan, ada apa sebenarnya..!

Kholifah           : sebenarnya kayak apa ummi, kholifah itu…?”

Ibu tua              : kholifah itu hanya besar dalam cerita, tidak seperti yang dibayangkan semua ummat…buktinya ummi tidak ada yang benghiraukan..!”

Kholifah           : Kejam yaa ummi, kholifah itu..?

Ibu tua              : bukan kejam lagi, seharusnya kalau memang gelarnya kholifah anak kami tidak akan sakit dan kelaparan sepanjang jaman..!

Kholifah           : astaghfirullah, ampunilah hamba ya Tuhannnn..!

Ibu tua              : (kaget dan tercengang seakan-akan bertanya-tanya dalam hati)…maaf tuan, sebenarnya tuan ini dari mana dan mau ke mana…?

Kholifah           : saya hanyalah seorang musyafir yang hendak melakukan perjalanan menuju madinah…!

Ibu tua              : tuan, bisakah tuan membantu kami mencarikan buah kurma untuk mengganjal perut anak kami yang sedang sakit…?

Kholifah           : sekali lagi saya tanyakan, kholifah Umar itu kejam ya ummi..?

Ibu tua              : sampaikan salam pada dia tuan, kalau tuan bertemu dia bahwa di tengah padang pasir ada ummatnya yang kelaparan…!

Kholifah           : ummi, saya punya sedikit bekal bahan makanan…barangkali ini akan membantu ummi untuk barang sehari…!

Ibu tua              : (masih bertanya-tanya dalam hati)…tuan ini sebenarnya siapa..?

Kholifah           : musyafir ummi, saya akan kembali lagi ke sini …..ummi gak keberatan khan? Tanya sang kholifah sambil sesekali menengok seorang anak sedang terbaring sakit.

Haidir Ali          : Ummi, aku ingin ikut tuan ini! Barangkali bisa bertemu dengan kholifah Umar yang gagah berani, peduli, dan dermawan itu….biar mereka tahu bahwa kemakmuran yang ia kumandangkan hanyalah omong kosong!

Kholifah           : ia ummi,  aku ingin mengajak anak  ummi membawa ke Madinah sekalian berziarah ke makam rasulullah.!

Ibu tua              : Tuan, harta paling berhargaku ini mau di bawa ke mana…?

Kholifah           : aku ingin anak Ummi menjadi seorang pemimpin yang besar seperti…!

Ibu tua              : seperti apa tuan…? Curiga, seakan ada pertanyaan besar dalam hati ummi.

Kholifah           :  (terdiam sembari meminta izin pulang menuju madinah)…ibu tunggu kami beberapa waktu, dan insyaAllah kembali lagi! Assalamualaikum, bersabarlah antum yaaa…!

Dengan dikawal dua orang pengawal setianya, akhirnya sang kholifah keluar dari gubuk tua menuju Madinah, sesekali kholifah menatap tajam langit yang membiru terpancar keindahan yang diselimuti awan. Madinah yang telah membesarkannya seperti mutiara di tengah-tengah gurun sahara. Di sepanjang perjalanan kholifah selalu menunjukkan sikap bersalahnya seperti yang diungkapkan penghuni gubuk yang disinggahinya(Ummi dan Haidir Ali).

Kholifah           : Amir, kau dengar apa yang diungkapkan ummi tadi…?

Amir Musa       : soddaqta yaa kholifah….hamba dengar bahasa hati tuan dan perasaan tuan selama berbincang dengan Ummi tadi, tapi hamba tak mau mencampuri tugas kholifah sebagai pemimpin kami!”

Mujahidin         : benar apa yang dikatakan Amir, bahwa jika kami memberitahukan kepada Ummi bagaimana perasaan tuan Kholifah..?

Kholifah           : cerdas kalian berdua, sebenarnya aku ingin memberikan kejutan kepada mereka sekaligus membaca isi hati ummatku…!

Amir                 : maaf tuan kholifah, apa yang disampaikan Ummi akan menjadi pelajaran berarti buat kholifah…!

Mujahidin         : maaf tuan kholifah, mungkin kejadian tadi akan membesarkan medan perjuangan kholifah dan sekaligus tantangan yang sangat berat…..!

Kholifah           : baiklah, ada tugas baru buat kalian…!

Amir                 : apa itu tuan…?

Kholifah           : tidak ada kata capek buat kita, aku ingin mengambil sekarung tepung dan kurma di Madinah, apakah kita naik kuda atau berjalan kaki…?

Amir                 : sebaiknya lebih cepatnya menggunakan kuda…?

Kholifah           : tidak ada pahalanya dalam perjuangan membantu yang lemah tanpa ada rasa lelah…!

Mujahidin         : tapi Madinah itu jauh tuan kholifah…?

Kholifah           : tidak apa, demi penderitaan ummatku, aku rela menghancurkan kaki dan tanganku !

Amir                 : tapi bagaimana dengan kesehatan tuan ?

Kholifah           : Tunggulah di sini, aku akan kembali beberapa saat lagi..!

Akhirnya kholifah pergi meninggalkan dua orang pengawalnya untuk menuju Madinah dan dengan  pertolongan Allah dia lari secepat angin dan petir. Sesampainya di Madinah ia bertemu dengan isterinya, dan dengan tergopoh-gopoh  ia berusaha mendekati iserinya yang masih sibuk menjahitkan bajunya sang kholifah.

Kholifah           : Assalamualaikum ya aba Zahrah..!

Abas Zahroh    : waalaikum salam…ya kholifah, ada apa gerangan kok sepertinya ada sesuatu yang membuat kholifah tegang..?

Kholifah           : benar abas, aku mau ke sebuah tempat yang selama ini membuat aku banyak dosa dan bersalah kepada Allah..!

Abas Zahroh    : apa maksud kholifah..?

Kholifah           : ternyata kemakmuran yang selama ini dirasakan penduduk Madinah, hanyalah omong kosong….!

Abas Zahroh    : hamba bingung abi, apa yang dimaksud Abi..?

Kholifah           : pada saat perjalanan menuju padang pasir, di sana ada sebuah gubuk tua yang dihuni dua orang manusia yang sedang masak dan tak kunjung mateng…!

Abas Zahroh    : belum paham abi..!

Kholifah           : yang dimasak penghuni itu ternyata hanyalah sebuah air yang gak berisi apapun..!

Abas Zahroh    : lantas apa yang dimasak ibu tadi, Abi..?

Kholifah           : hanya untuk mengakali anaknya yang sedang sakit sambil menunggu datangnya pertolongan dari orang lain..!

Abas Zahroh    : terus bagaimana kok bisa begitu abi…?

Kholifah                       : sudahlah , Abi terburu-buru…siapkan tepung dan kurma sekarung!

Abas Zahroh    : baik Abi…!

Berangkatlah kholifah dengan membawa tepung dan kurma untuk dibawa ke tempat yang dituju yaitu pemukiman miskin yang tak tersentuh oleh kebahagiaan. Dengan pertolongan Allah, perjalanan kholifah sekejap dalam pandangan mata dan tiba di tempat dimana dua orasng pengawal sudah menunggu.

Kholifah           : Assalamualaikum …!

Amir                 : Waalaikum salam, kekuatan apa yang digunakan tuan kok secepat kilat…?

Kholifah           : sudahlah, tidak perlu dibahas, mari kita segera menuju gubuk tua yang telah membuat aku banyak dosa…!

Sesampainya di gubuk tua, ternyata telah ada dua orang yang sedang duduk dan terbaring sakit yang tidak lain adalah ibu tua dan Haidir Ali…..

Kholifah           : Assalamualaikum…!

Ibu tua              : waalikum salam, bagaimana tuan…?

Kholifah           : ini saya bawakan sekarung tepung dan kurma untuk ummi, barangkali ini akan membantu meringankan penderitaan ummi…diterima ya!

Ibu tua              : Ya Allah, inilah jawaban atas doa hamba yang selalu dengan kesabaran dan penderitaan, terimakasih ya Allah…!”sambil bersujud ke lantai yang berpasir.

Kholifah           : ummi bahagia dengan pemberian kami ini…?

Ibu tua              : terima kasih tuan, sebenarnya tuan ini siapa dan dari mana asal tuan…?

Kholifah           : ummi benar ingin tahu tentang kami…?

Ibu tua              : Ya tuan, kami sangat senang dengan pengabdian tuan..?”tanyanya memelas.

Kholifah           : ummi, sayalah orang yeng telah membuat ummi menderita…pemimpin panutan ummi yang selama ini ummi bangga-banggakan tapi tidak becus memperhatikan ummi dan anak ummi..!

Ibu tua              : Jadi, tuan ini…..?

Kholifah           : ya, ummi sayalah kholifah perubahan dunia pemimpin generasi Muhammad SAW, KHOLIFAH UMAR BIN KHOTTOB…..!

Ibu tua              : apa tuan…(langsung pingsan dan tergeletak di lantai)…!

Haidir Ali          : (langsung bangun dan seakan rasa sakitnya hilang)…sambil bersujud dan memegang tangan kholifah Umar…”maaf tuan, selama ini hamba terlalu berprasangka jellek, inilah impian selama ini untuk bertemu dengan sang kholifah harus bertemu dalam suasana serba dosa…sekali lagi mohon maaf tuan!

Kholifah           : sudahlah, ternyata menjadi seorang pemimpin berat sekali tantangannya…!

Haidir               : ya kholifah, tidakkah engkau marah sedikitpun tentang kejadian ini…?

Kholifah           : tidak Haidir…! Inilah jalan berliku yang harus ku tempuh untuk memberikan cahaya harapan nilai-nilai perjuangan Rosulullah…! Jelasnya sembari mengusap muka haidir sambil membacakan ayat-ayat Allah seperti yang diajarkan Rosulullah untuk meringankan beban orang yang sedang sakit.

Akhirnya kholifah pergi meninggalkan tempat itu dalam keadaan tidak ada beban sedikitpun setelah memberikan bantuan pada ummat yang selama ini sebenarnya mengharapkan kedatangannya dengan harapan bahwa penderitaannya akan berakhir. Sementara sang Ummi (ibu tua)  yang dari tadi pingsan karena terharu melihat aura kholifah yang telah dicaci makinya, ternyata memiliki ketulusan hati yang sangat tinggi dan mulia. Hingga menjelang maghrib datanglah dua orang punggawa kerajaan yang menghampiri gubuk tua tak layak pakai dan hampir roboh, hingga suatu ketika……

Prajurit             : asssalamualaikum….!

Haidir               : waalaikum salam…! Ada apa tuan..?

Prajurit                         : Gubuk ini harus segera kalian tinggalkan, karena akan digusur untuk digantikan bangunan dan gedung-gedung megah timur tengah…!

Prajurit             : apa maksud tuan, dari dulu tanah ini tanah kami ?

Ibu tua             : (sambil mengusap dadanya)…maaf tuan, jangankan untuk pindah mati sekalipun kami tidak akan pindah..! karena rumah ini hak kami dan tanah kami.

Prajurit             : jangan salahkan kami kalau gubuk ini akan kami bongkar dengan paksa!”

Haidir               : silahkan dan kami akan bertahan, kami tidak akan melawan, biarlah Tuhan yang akan mengadili kedzaliman ini!!!”””

Prajurit             : lapor kemana saja kamu tidak akan mendapatkan perlindungan karena ini sudah titah gubernur…!

Kedua prajurit itu akhirnya membongkar secara paksa dan menghanguskan serta meluluhlantakkan  tempat yang selama menjadi pelindung keduanya. Dengan perasaan bersedih, Haidir dan Umminya pergi meninggalkan gubuk tua penuh kenangan indah bersama anak dan suaminya, karena di tempat itu mulai kecil hingga dewasa Haidir besar dengan kesederhanaan. Hingga di dalam benak Haidir muncul keinginan untuk menemui sang kholifah untuk mencari keadilan dan perlindungan. Selama dalam perjalanan, Haidirr menanyakan keberadaan kholifah hingga bertemu dengan seorang ulama yang mengatakan bahwa kholifah ada di Madinah sedang mengadakan dakwah. Di Madinah, haidir dan umminya menemui kholifah untuk menyampaikan beberapa ketidakadilan yang dialaminy.

Haidir               : Assalamualaikum ya kholifah…?

Kholifah           : alaikum salam, hei….apakabar antum dan ummi sehat-sehat saja?

Ibu tua                          : Benar ya kholifah, tapi kami ke sini mamu menyampaikan musibah yang baru kami alami…!

Kholifah           : musibah apalagi ya ummi, coba ceritakan…!

Ibu tua             : begini ya kholifah, gubuk kami baru saja kena gusur oleh seorang prajurit utusan gubernur dan tanpa melihat milik siapa dan tanah siapa, gubuk kami langsung digusur secara paksa….!

Haidir               : benar kholifah, katanya tempat itu akan dibangun gedung megah timur tengah…!

Kholifah           : hemmm, ya yayayyaya…..baiklah, tolong ambilkan tulang unta di halaman rumah itu dan ambilkan pedang ya Amir…!

Amir                : baik ya…kholifah…!”gegasnya sembari mengambilkan tulang unta dan pedang yang sering di bawa kholifah.

Haidir               : apa maksud kholifah…?tidak mengerti dengan maksud kholifah

Kholifah           : tulang unta ini akan saya garis lurus dengan pedang ini, tolong sampaikan tulang ini ke prajurit yang telah menggusur rumah ummi….!

Ummi : saya belum paham ya kholifah!

Kholifah           : sudah sampaikan tulang ini, nanti mereka akan mengerti dan paham…!”

Haidir               : baik, terimaksaih kholifah..!

Pulanglah haidir dan umminya meninggalkan madinah, dan akan menemui dewan gubernur yang telah menggusur gubuknya. Selama dalam perjalanan mereka tetap tidak habis pikir maksud dari tujuan kholifah mengirimkan tulang dan garis lurus pada tulang unta. Sesampainya di Madinah mereka dicegat oleh dua orang prajurit ………..”

Prajurit             : ada apa ummi kemari….?

Ibu tua              : tidak ada maksud apa-apa kecuali hanya mau menyampaikan pesan kholifah ini…!

Prajurit             : pesan kholifah apa…?”tanya prajurit .

Ibu tua              : tolong sampaikan benda ini kepada pimpinan tuan yang telah menggusur gubuk kami!

Prajurit             : Baik, akan kami sampaikan dan ibu tunggu di sini saja…!

Masuklah kedua prajurit tersebut ke ruang istana untuk menyampaikan pesan ibu dan satu orang anak yang tidak lain Haidir dan umminya, dan begitu melihat benda yang diberikan oleh prajurit tersebut gubernur langsung gemetar dan memerintahkan kepada semua pejabat istana untuk membangun kembali gubuk yang elah dihancurkannnya beberapa waktu lalu.

Gubernur          : prajurit….prajurit….dimana kalian?” tanyanya marah-marah.

Prajurit             : hamba menghadap gusti…!

Gubernur          : bencana…bencana….bencana?

Prajurit             : ada apa tuan gubernur, bukankah istana aman-aman saja…?

Gubernur          : kamu tahu gubuk yang kalian gusur beberapa waktu lalu, tolong perbaiki seperti sedia kala!

Prajurit             : bukankah kita melakukannya secara benar sesuai perintah tuan…        !

Gubernur          : tidak, rupanya ummi dan haidir telah melapor kepada tuan kholifah sehingga datanglah tulang bencana ini!

Prajurit             : apa maksud tulang ini tuan gubernur…?

Gubernur          : maksudnya adalah berjalanlah lurus dan berlakulah adil kalian, kalau tidak nasibnya kamu akan kujadikan sama seperti tulang belulang ini!”

Prajurit             : takut ya tuan apalagi yang mengirim pesan ini adalah tuan kholifah!

Gubernur          : tolong segera bangun kembali berapapun biayanya, aku tidak mau tuan kholifah marah.

Prajurit             : baik tuan, hamba akan memerintahkan semua prajurit istana untuk mengembalikan gubuk ummi dan haidir!

Akhirnya prajurit tersebut memberitahukan kepada haidir dan umminya untuk segera pulang, karena sebentar lagi para pejabat istana akan membangun kembali gubuk yang baru saja digusur oleh dewan gubernur dan prajuritnya.

Prajurit             : ummi, pesan telah kami sampaikan dan sebentar lagi gubuk ummi akan segera dibangun kembali!

Ibu tua             : jadi, apa maksud tulang belulang yang digaris lurus itu tuan …?

Prajurit             : maksudnya adalah berjalanlah lurus dan berlakulah adil kalian, kalau tidak nasibnya kamu akan kujadikan sama seperti tulang belulang ini!”

Haidir               : benar-benar pemimpin yang adil kholifah itu ya tuan, hanya tulang saja bisa membuat orang ketakutan.

Prajurit             : makanya jangan main lapor aja kamu…!

Ibu tua             : terimakasih tuan!

Demikianlah kisah cerita singkat perjalanan kholifah dalam menegakkan agama islam, keadilan tidak memandang sebelah mata dan siapapun pejabatnya kalau sudah tidak berbuat adil maka hukumlah yang akan berbicara, andaikan kholifah menjadi reingkarnasi pada pejabat-pejabat sekarang betapa indahnya dunia ini.  Bahkan orang-orang yahudi lebih merasakan keadilan sejak jaman Rosulullah dibandingkan jaman sebelum ajaran islam berkembang, sehingga penyebaran agama islam sangat pesat sejak dipimpin kholifah Umar bin Hottob.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: